Ekspedisi Ferdinand Magellan (1480-1521) dari Spanyol yang
mengelilingi dunia pada abad ke-16 berantakan dan pasukannya
mengalami demoralisasi. Kekurangan pangan mengakibatkan pasukannya
memberontak dan ada yang tidak mau melanjutkan perjalanan.
Sementara itu, ekspedisi Zhou Man yang merupakan salah satu bagian
dari ekspedisi besar Cheng Ho mengelilingi dunia satu abad
sebelumnya, tepatnya 1421, dengan kondisi relatif aman dan sehat.
Kuncinya ada pada teknologi pangan yang digunakan oleh ekspedisi
China itu.
Tidak mudah membandingkan antara ekspedisi Magellan dan ekspedisi
Zhou Man itu secara akurat. Keterbatasan sumber-sumber tertulis yang
ada menjadi penyebabnya. Magellan didampingi pencatat bernama Antonio
Pigafetta yang hingga sekarang catatannya masih bisa didapat.
Catatan tentang ekspedisi Zhou Man relatif terbatas. Gelombang
politik yang diwarnai pergantian kekuasaan di China tidak sedikit
menyebabkan sejumlah catatan yang ada musnah.
Akan tetapi, ada upaya pelacakan dan penelitian yang sangat berarti
untuk mengetahui ekspedisi China itu mengelilingi dunia. Dari situ
kita bisa membandingkan betapa teknologi pangan yang digunakan armada
dari China itu memang lebih unggul dibandingkan dengan bangsa Eropa
saat itu.
Kejayaan sejumlah kisah ekspedisi bangsa Eropa nyaris rontok ketika
penulis dan mantan anggota Angkatan Laut Inggris yang lahir di China,
Gavin Menzies, mengeluarkan hasil penelitiannya pada tahun 2002
mengenai siapa yang lebih dulu mengelilingi bumi, bangsa China atau
bangsa Eropa, di dalam buku 1421 The Year China Discoverd The World.
Penelitian ini memang masih menjadi perdebatan.
Tahun lalu dunia merayakan 600 tahun pelayaran Laksamana Cheng Ho.
Tahun 1405 merupakan tahun pertama Cheng Ho melakukan pelayaran ke
sejumlah negara di Asia. Pelayaran pada tahun 1417-1419 yang diikuti
oleh ratusan kapal merupakan pelayaran terbesar.
Pada tahun itu Cheng Ho berlayar dari China menuju Kalkuta, India. Ia
sendiri kemudian kembali ke China pada tahun 1421. Dari Kalkuta,
empat armada lainnya mengelilingi dunia. Salah satu armada itu adalah
armada Zhou Man yang setelah dari Kalkuta menuju Samudra Atlantik.
Kapal ini menuju ke Amerika Selatan, terus menyusuri Pasifik Selatan
hingga sampai Selandia Baru dan Australia.
Beberapa kapal Zhou Man kembali ke China ke arah utara, tetapi ada
pula yang kembali memasuki Pasifik Tengah hingga menuju ke California
dan Amerika Selatan. Setelah itu mereka baru kembali ke China.
Berbekal beras dan kedelai
Dari catatan yang ada, kita mengetahui makanan pokok yang dibawa
ekspedisi China itu terdiri antara lain kedelai, terigu, dan beras.
Bahan makanan ini dibawa oleh kapal yang terpisah. Cara ini
memungkinkan kapal berada di laut untuk beberapa bulan tanpa perlu
mendapat pasokan baru dari darat, tetapi jika kapal ini tenggelam,
semua kapal akan terkena masalah.
Awak kapal memanfaatkan biji kedelai untuk memproduksi kecambah.
Proses perkecambahan sangat mudah, biji kedelai cukup direndam air.
Kecambah ini memiliki kandungan asam askorbat, ribovlafin, dan asam
nikotinat yang merupakan vitamin.
Kepala Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya, Palembang, Fili Pratama ketika dikonfirmasi
menjelaskan, proses perkecambahan itu memang membuat gizi produk yang
dikecambahkan semakin baik.
Awak kapal
Pasokan gizi itu akan menghindarkan awak kapal dari sariawan dan
meningkatkan daya tahan tubuh. Kedelai juga digunakan untuk produksi
susu, tahu, dan kecap. Tahu dan sayur-sayuran diberi cita rasa oleh
terasi, kecap, dan rempah-rempah kering.
Buah-buahan seperti berbagai jenis jeruk dan kelapa juga dimuat ke
kapal. Buah ini juga akan melindungi awak kapal dari berbagai
penyakit. Gula digunakan untuk mengawetkan buah-buahan dengan
pembuatan manisan. Sayur-sayuran diawetkan dengan dibuat asinan.
Salah satu jenis beras yang dibawa ekspedisi ini adalah beras
berwarna coklat, yang berasal dari pengolahan yang tidak sampai
dihaluskan hingga putih. Dengan cara ini, beras mengandung vitamin
B1.
Fili Pratama membenarkan, beras coklat itu merupakan beras yang belum
disosoh sehingga berwarna coklat. Beras ini memang mengandung vitamin
B1 dan mampu membuat awak kapal terlindung dari serangan beri-beri,
penyakit yang bisa merusak jaringan saraf.
Jumlah daging yang dibawa sangat minim. Kalau ada ayam, lebih banyak
digunakan untuk upacara-upacara penyembahan dan jarang dimakan di
kapal. Akan tetapi, ikan segar, ikan asin, ikan kering, dan ikan
terfermentasi banyak ditemukan. Awak kapal minum teh dan juga brem
yang menyehatkan badan mereka.
Tidak lupa, untuk kepentingan menjaga gairah seks karena ada yang
membawa selir, mereka juga membawa produk yang bisa berfungsi sebagai
aphrodisiak. Aphrodisiak yang paling populer adalah sepasang kadal
merah yang dicelupkan ke minuman anggur.
Awak kapal laki-laki membawa alat menyerupai kondom yang bernama yin
jia dan juga agar-agar untuk pelumas dan disinfektan saat senggama.
Dengan cara ini, armada itu jarang terkena penyakit kelamin.
Air
Mengarungi samudra yang luas dan lama, kapal-kapal itu sangat
membutuhkan air dalam jumlah besar, baik untuk keperluan awal kapal
maupun hewan yang dibawa seperti kuda untuk angkutan.
Mereka harus menambah pasokan air dari darat jika ada kesempatan.
Akan tetapi, mereka bisa mendestilasi air laut dengan menggunakan
bahan bakar berupa parafin atau lapisan lemak. Kapasitas desalinasi
yang sangat besar menjadikan mereka bisa berlayar sangat jauh.
Meski demikian, salah satu kritik terhadap dugaan ini adalah seberapa
besar kapasitas desalinasi. Kuda yang dibawa membutuhkan air dalam
jumlah besar. Kuda yang terpapar oleh kondisi yang sangat lembab
membutuhkan air lima galon per hari. Untuk itu, dalam enam minggu,
kuda membutuhkan 420 galon air atau sekitar satu ton air.
Ransum makanan yang dibawa ekspedisi Cheng Ho dan rekan-rekannya itu
sangat bervariasi dan bergizi dibandingkan dengan makanan yang dibawa
ekspedisi Magellan satu abad kemudian. Kondisi awak kapal yang
termasuk dalam ekspedisi Cheng Ho relatif tidak mengalami gangguan
kesehatan yang berarti.
Awak kapal Magellan mengalami banyak gangguan kesehatan hingga mereka
mengalami demoralisasi. Beberapa di antaranya tidak mau melanjutkan
pelayaran. Dari lima kapal yang memulai pelayaran dari Pelabuhan
Sevilla, Spanyol, hanya satu kapal yang kembali ke negeri itu setelah
mengelilingi dunia.
Kami hanya makan biskuit lama yang dipenuhi dengan kutu. Biskuit itu
juga berbau sangat menyengat karena dikencingi tikus, tulis Antonio
Pigafetta dalam catatannya yang kemudian dibukukan dengan judul
Magellan's Voyage.
Hal seperti ini tidak terjadi di dalam ekspedisi Cheng Ho dan rekan-
rekannya. Di dalam kapal, mereka menggunakan $3N$0r untuk memburu
tikus. Mereka menggunakan arsenik untuk membunuh kutu dan serangga.
Ekspedisi Cheng Ho memberi banyak pengetahuan baru kepada kita.
Pertama, soal bangsa pertama yang mengelilingi dunia. Kedua,
teknologi pangan bangsa-bangsa di Asia Timur yang ternyata tidak
kalah ketimbang bangsa Eropa. Saatnya kearifan Timur dimunculkan
lagi.
|