Mr,robert tambunan.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah dengar bahwa tanjung priok akan di jadikan HUB PORT, kemampuan SDM pelabuhan akan di tingkatkan, alat bongkar muat akan di perbaharui dengan yang canggih ( terutama CC ) ,teknologi informasinya akan di upgrade.untuk berusaha menarik shipping line yang banyak menjadikan PSA singapore sebagai tempat transit mother vessel mereka, kalau tidak salah Maersk Line pernah menyandarkan salah satu mother vessel mereka di salah satu terminal container tjg priok (Koja / JICT ) tapi sepertinya sudah tidak nampak lagi ( Mungkin cargo yg di dapat tidak cukup untuk menutupi biaya operasional kalee).
Robert,apakah mungkin untuk menjadikan Tanjung priok menjadi Hub port cukup dengan Terminal container yang luas,peralatan bongkar muat yang canggih yang bisa melakukan bongkar muat dengan b/s/h 60 boxes,teknologi yang canggih,SDM yg berkemampuan bagus, saya berpendapat terminal hanyalah sarana penunjang,logikanya begini untuk apa shipping line memasukkan mother vesselnya ke suatu pelabuhan tapi jumlah cargo yang ada tidak cukup untuk menutupi biaya operasi mereka.
Menurut saya harus di mulai dari pangkalnya dulu yaitu bagaimana menciptakan iklim usaha di indonesia bagus termasuk undang2 tenaga kerja,regulasinya,tenaga kerja yang ahli ( Iklim usaha kondusif) sehingga dengan sendirinya banyak investor yang menanamkan modalnya yang dengan sendirinya arus eksport- import meningkat yang berlanjut banyaknya kapal yang akan sandar di pelabuhan.
Robert,bagaimana mungkin pengusaha akan menanamkan modalnya di indonesia dengan bebagai persoalan,baru urus ijin usaha sudah di mintain biaya under table,setelah berdiri perusahannya dia harus menghadapi karyawannya sendiri untuk di demo, kalau sempat melakukan kegiatan eksport - import maka dia harus menyediakan dana siluman yang sagat besar, mulai dari biaya di perjalanan ( Polisi lalu lintas di tol ),petugas bea cukai,apalagi kalau cargonye kena jalur merah bisa berkarung-karung barang yang hilang dengan alasan buat sample,plus biaya kalo sudah masuk di terminal ( bert Kalo yang ini jangan di singgung ya,banyak classmate,senior,junior di tempat ini he he he, termasuk saya kali he he hee.
bert, jadi mungkin kalau iklim usaha bagus banyak perusahaan asing yang menanamkan modalnya di indonesia dengan sendirinya arus eksport- import meningkat,kalo sudah tahap ini mau di jadikan apa keq tanjung prioknya ( Hub port keq, atau apalah terserah apa namanya )
Bert, Mungkin antara menteri BUMN n Perindustrian,perdagangan gak nyambung kali ya,yang BUMN bagusin pelabuhannye tapi gak tau cargo ape yang akan di tumpuk.
Jadi gimana nih bert hub portnye?
di bawah ini ada beberapa link yang membahas tentang penelusuran yang di lakukan oleh wartawan kompas.
http://kompas.com/kompas-cetak/0706/19/utama/3618966.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/20/utama/3620506.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/19/ekonomi/1698136.htm
http://kompas.com/kompas-cetak/0407/28/ekonomi/1175872.htm
Salam hangat,
Amedt-37
Robert Tambunan wrote:
SULITNYA PUNGLI DIBERANTAS DI PELABUHAN
Sektor pelabuhan adalah sektor yang sangat strategis dalam usaha pembangunan ekonomi nasional karena menentukan kelancaran perdagangan barang yang menghasilkan devisa.
Letak geografis Indonesia yang jauh dari negara eksportir dan importir dunia, menuntut kinerja pelabuhan yang baik dan mampu berfungsi sebagai infrastruktrur yang membantu meningkatkan daya saing di pasaran internasional serta menghasilkan devisa yang lebih banyak.
Salah satu fungsi pelabuhan adalah sebagai area penghubung (interface) wilayah daratan dan lautan dalam rantai proses perdagangan yang memiliki fungsi vital khususnya bagi Indonesia yang tingkat dependensi perdagangan lewat laut relatif dominan khususnya untuk orientasi volume dan nilai perdagangan barang.
Eksistensi pelabuhan sebagai penghubung moda transportasi sangat mempengaruhi tingginya biaya pungutan liar (pungli) yang tidak logis dan riil pada seluruh institusi pengelola dan penyedia jasa di pelabuhan baik secara langsung dan tidak langsung yang menyebabkan high cost economy.
Untuk mengidentifikasi ekspansi biaya pungli di wilayah pelabuhan dapat dipetakan/dikelompokkan sebagai berikut :
1. Pengurusan kapal dari sandar sampai berangkat yaitu :
Adpel :- clearance in & out kapal
- uang rambu
- ijin olah gerak, pengurusan DG, pengecatan, pengelasan dsb
Imigrasi : - clearance in & out kapal
Port Health : - clearance in & out kapal
Pelindo : - penetapan sandar, perpanjangan/perubahan tambat dan berangkat kapal
Kepanduan : - inbound dan outbound kapal
Mooring : - jasa menambatkan dan melepaskan tali kapal ke bolder
2. Struktur biaya pungli ekspor dan impor di pelabuhan :
THC dan B/L Fee , sudah disesuaikan dengan ketentuan pemerintah
Biaya extra di depo u/ operator forklift dan surveyor container
Fee di pintu/gate masuk
Pengawalan barang / incentive petugas lapangan
Bikin kartu eskpor dan impor
Fee untuk lift on/off container di pelabuhan
Kelancaran pengurusan, Fiat dokumen PEB dan PIB di kantor Bea dan Cukai
Biaya extra untuk petugas pintu Bea Cukai
Daerah inilah yang memberikan kontributor terbesar dari timbulnya biaya tinggi (pungutan) di wilayah kepelabuhanan. Hal ini sudah berurat dan berakar dari generasi ke generasi, sehingga sangat sulit diberantas karena sudah menjadi “tradisi”.
Pelabuhan menjadi sumber inefficiency cost dan waktu transportasi, sehingga dapat menghambat kinerja industri dan menurunkan daya saing.
Para pengguna jasa pelabuhan tidak berdaya menghadapi pungli karena efek dari tidak memberikan pungutan akan ditolak atau mendapat pelayanan yang buruk/lambat.
Harapan dari users pelabuhan agar Pemerintah segera menertibkan praktek pungli yang terjadi di pelabuhan yang sudah merajalela dan harus dilakukan dengan tegas/sanksi meskipun muncul resistensi dari oknum yang terlibat, sehingga deklarasi pemberantasan pungli di pelabuhan tidak hanya wacana saja atau “om-do (omong doang)”
Robert Tambunan – KTK 39
|